Harga Kebutuhan Pokok Melambung Tinggi Setiap Ramadhan, Kenapa?

Oleh: Priha Rohani
(Jama’ah Majelis Ta’lim Khairunnisa Karawang)

SILATJABAR.COM,- Kenaikan harga kebutuhan pokok semakin tinggi setiap menjelang Ramadhan tiba, seperti menjadi hal yang biasa disetiap tahunnya. Harga Bahan pokok kian melambung tinggi sehingga semua mengeluh.

Dilansir dari tribunnews (29/02/24) beberapa pedagang nasi Padang mengeluhkan harga ayam yang naik, Sehingga menurunkan omset penjualan mereka. Mereka berharap agar harga bisa stabil seterusnya.

Banyak dari masyarakat yang mengeluh dengan harga yang naiknya gila-gilaan bahkan diatas HET (Harga eceran tertinggi) pemerintah.

Sehingga para pedagang sangat kesulitan untuk menjual dagangannya, dan ini sangat membingungkan mereka dari mulai harga Beras, cabai rawit, bawang merah, cabai merah dan telur. Di tahun ini harga jauh lebih melonjak dari tahun -tahun sebelumnya.

Kenapa kenaikan harga kerap terjadi dimomen ramadhan karena kebijakan impor selalu jadi solusi, biaya produksi para petani pun mahal tapi tidak lantas menaikan penghasilan petani.

Berbeda dalam sistem Islam negara bertanggungjawab penuh atas kebutuhan (sandang, pangan dan papan) seluruh masyarakat yang hidup di dalamnya. Dan itu semua adalah fitrah yang wajib dipenuhi oleh penguasa kepada umat secara individu perindividu dengan adil.

Sebagimana Rasulullah SAW bersabda “Setiap kamu adalah pemimpn dan setiap kamu akan di mintai pertanggung jawaban atas di pimpinnya ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pemimpin adalah penjaga yang diberi amanah, sudah semestinya seorang pemimpin mengurus seluruh umat dari segala kesulitan dan mengupayakan kestabilan perekonomian yang merupakan kesejahteraan masyarakat sebagai bentuk pelayanan pemimpin terhadap masyarakat.

Contoh halnya seperti yang pernah dialami pada zaman kekhalifahan Umar Bin Khattab ketika itu pernah pada masa paceklik dan kekurangan bahan pangan makanan sehingga Umar bin Khattab mencari bahan makanan hingga ke negeri Syam dan Mesir agar rakyatnya tidak kelaparan.

Baca Juga :  Kolaborasi ITB dan University of Manchester Dengan Indonesia Power, Dukung Kelestarian Sungai Citarum